Beranda / DAERAH / Seminar Nasional FKIP Unila Bahas Arah Baru Pendidikan di Era Teknologi

Seminar Nasional FKIP Unila Bahas Arah Baru Pendidikan di Era Teknologi

 

Bandar Lampung, Beritajurnalis.com – Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung menggelar seminar nasional bertema “Arah Baru Pendidikan: Kepemimpinan, Inovasi, dan Inklusi” sebagai forum akademik untuk membahas tantangan dan peluang dunia pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat yang kian kompleks di aula A FKIP Universitas Lampung, Rabu (26/8/2027)

Dikatakan Wakil Dekan I, Dr. Riswandi, M.Pd., bahwa arah baru pendidikan membutuhkan gagasan yang mampu menjawab perubahan zaman. kepemimpinan, inovasi, dan inklusi menjadi tiga aspek penting yang perlu diperkuat dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas.

“Kepemimpinan menjadi pilar pertama dalam menentukan arah transformasi pendidikan. Setiap orang yang terlibat dalam organisasi pendidikan memiliki peran sebagai pemimpin yang harus mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini,” ujarnya.

Ia menuturkan, kepemimpinan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan posisi formal, tetapi juga kemampuan menggerakkan organisasi, melakukan transformasi, serta mengambil langkah adaptif terhadap berbagai perubahan.

“Inovasi harus dilakukan berdasarkan relevansi dan kebutuhan organisasi maupun masyarakat. Pemanfaatan teknologi juga perlu disertai kemampuan menyaring informasi agar tidak menimbulkan ketergantungan,” tutur Riswandi.

“Penggunaan teknologi harus memiliki filter dan kontrol. Jangan sampai kita hanya bergantung pada teknologi sehingga inovasi yang lahir dari diri sendiri justru semakin berkurang,” imbuhnya.

Sementara itu, aspek ketiga adalah inklusi. Pendidikan, menurut Riswandi, harus mampu memberikan akses yang setara kepada seluruh masyarakat untuk memperoleh pendidikan berkualitas, termasuk bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

“Pemerataan mutu pendidikan masih menjadi tantangan. Kualitas pendidikan di wilayah perkotaan dan daerah yang jauh dari pusat pembangunan belum sepenuhnya setara. Karena itu, akses terhadap pendidikan berkualitas perlu terus diperjuangkan,” kata dia.

“Pendidikan yang berkualitas harus bisa dirasakan semua, baik mereka yang berkebutuhan khusus maupun yang tidak,” sambungnya.

Sementara itu, Dikatakan Pemateri seminar, Prof. Dr. Sowiyah, M.Pd., bahwa transformasi pendidikan tidak cukup hanya dilakukan melalui perubahan kurikulum atau pemanfaatan teknologi. transformasi yang sesungguhnya adalah perubahan paradigma dalam memandang peserta didik dan tujuan pendidikan.

“Transformasi pendidikan bukan sekadar perubahan kurikulum atau pemanfaatan teknologi, tetapi perubahan paradigma dalam memandang peserta didik dan tujuan pendidikan,” ungkap Sowiyah.

Ia menjelaskan, pendidikan harus memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya tanpa diskriminasi. Prinsip tersebut menjadi bagian penting dari konsep education for all atau pendidikan untuk semua.

Menurut Sowiyah, perbedaan kemampuan, latar belakang, bakat, minat, dan kebutuhan peserta didik tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi kesempatan memperoleh pendidikan.

“Berbeda bukan berarti tidak mampu. Anak yang tidak bisa menghafal, misalnya, mungkin memiliki kemampuan lain seperti menulis. Di situlah pentingnya pendidikan inklusif,” jelasnya.

Sowiyah juga menekankan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan peserta didik penyandang disabilitas. Inklusi mencakup kemampuan pendidik memahami latar belakang dan keunikan setiap peserta didik serta menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan mereka.

Dalam paparannya, ia menyebut lima pilar penting transformasi pendidikan, yakni inklusivitas, mutu, inovasi, pemanfaatan teknologi, serta karakter dan kemanusiaan.

Menurutnya, generasi unggul tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Mereka juga harus memiliki karakter, kompetensi, kemandirian, serta kepedulian terhadap sesama.

“Generasi unggul bukan hanya generasi yang cerdas, tetapi juga berkarakter dan memiliki jiwa kemanusiaan,” paparnya.

Ia juga mengingatkan bahwa teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), harus ditempatkan sebagai alat bantu dalam pendidikan, bukan pengganti peran pendidik.

“Teknologi dapat membantu guru dan dosen, tetapi tidak dapat menggantikan sentuhan manusia,” tegasnya.

Karena itu, pendidik masa depan dituntut menjalankan berbagai peran, mulai dari edukator, fasilitator, mentor, inovator, kolaborator, desainer pembelajaran, hingga teladan bagi peserta didik.

Adapun penyampaian pemateri lainnya, Dr. Romdhi Fatkhur Rozi, ia mengajak peserta melihat transformasi pendidikan dari perspektif media dan komunikasi. Menurutnya, perubahan teknologi dan perkembangan media digital telah menciptakan lingkungan yang semakin kompleks.

Ia menilai, persoalan pendidikan saat ini tidak dapat dilihat dari satu perspektif saja. Pendekatan multidisipliner diperlukan untuk memahami persoalan yang semakin saling terhubung.

“Sekarang tidak cukup dengan satu perspektif untuk mengkaji permasalahan yang semakin kompleks. Model kajian multidisiplin menjadi penting,” terang Romdhi.

Menurutnya, perkembangan media digital telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Masyarakat kini hidup dalam kondisi yang sangat terkoneksi, tetapi pada saat yang sama menghadapi kerentanan baru akibat ketergantungan terhadap teknologi.

Romdhi mencontohkan perubahan besar yang terjadi selama pandemi Covid-19. Sistem pendidikan yang sebelumnya berjalan secara tatap muka harus beralih secara cepat ke pembelajaran daring.

Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa institusi pendidikan harus memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Ia juga mengingatkan mahasiswa dan dosen agar menggunakan media sosial dan teknologi secara bijak. Kemudahan memperoleh informasi jangan sampai justru membuat seseorang menjadi malas berpikir dan menerima informasi tanpa melakukan verifikasi.

Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial, robotika, dan ekonomi digital, pendidikan dituntut membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, adaptif, kreatif, dan mampu membaca perubahan.

“Jangan sampai teknologi justru membuat kita menjadi lebih malas. Kita harus tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dan mampu menyaring informasi,” tanbahnya.

Seminar nasional tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif mengenai masa depan pendidikan. Para pemateri menegaskan bahwa arah baru pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan, kemampuan berinovasi, komitmen terhadap pendidikan inklusif, serta penguatan karakter.

Melalui forum tersebut, peserta didorong tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut membangun gagasan dan solusi bagi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Riswandi berharap seminar nasional tersebut dapat melahirkan gagasan baru yang dapat menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan.

“Harapannya, seminar ini benar-benar melahirkan ide terkait arah baru pendidikan sehingga menjadi pilihan terbaik bagi kita ke depan,” pungkasnya. (Aliando)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *